Kamis, 14 Februari 2013

Shirahime Shou


Shirahime shou yang berarti Tales of the White Peincess atau Dongeng Putri Putih, dalam manganya tidak hanya menceritakan mengena White Princess semata, tapi juga menceritakan mengenai orang-orang yang mempercayai kebradaannya. Cerita ini diambil dari legenda Jepang yang sangat terkenal, dan berulang kali kisah ini muncul dalam berbagai bentuk kebudayaan jepang, naik manga, puisi, novel, drama, tarian ataupun film. Artwork manga ini dikerjakan oleh Mokona Apapa sedangkan naskahnya oleh Nanase Ohkawa. Saat membaca manga ini, kita akan menemukan 5 chapter berbeda, masing-masing berupa kisah pedek, namun antara satu dan lainnya terentang benang merah yang sama, tentang penampakan dari sang putri putih.

  • CHAPTER ONE: JO

seorang pengembara berjalan dalam badai salju yang ganas. Dalam perjalanannya itu ia bertemu dengan seorang wanita cantik berambut panjang hitam dan mengenakan kimono putih, anehnya wanita itu tidak meninggalkan jejak apapun di atas salju yang diinjaknya. Pengembara itu bingung, mengapa ia berada dalam badai salju. Saat ditanya wanita itu mengatakan dia sedang menunggu, tapi tidak mau mengatakan apa yang sedang ditunggunya. Pengembara itu menyarankan supaya wanita itu segera pulang. Karena pada saat salju inilah Shirahime akan muncul. “Shirahime?” tanya wanita berkimono putih itu. “Shirahime adalah dewi salju. Saat salju turun, itulah bentuk tangisan Shirahime” si pengembara menjelaskan.


  • CHAPTET TWO: GAROU NO YAMA

Seorang gadis muda menyandang pedang di bahunya, terlihat tengah mendaki gunung. Saat itu awan tebal, langit gelap dan salju turun deras. Fubuki, nama gadis itu, bermaksud membunuh seekor serigala atas perintah ibunya, demi membalas dendam kematian ayahnya. Di tengah perjalanan sulit itu, Fubuki bertemu seekor anjing liar di bawah pohon. Dia bunuh anjing itu dengan 1 tebasan pedangnya. Namun tiba-tiba dia sudah dikepung segerombolan anjing liar. Fubuki berusaha keras melawan, tapi jumlah anjing itu terlalu banyak, dia un lalu jatuh pingsan.
Saat sadar, Fubuki sudah berada dalam sebuah gua dan ia berhadapan dengan seekor serigala yang ia yakini telah membunuh ayahnya. Serigala itu mendekati Fubuki dan menjilati lengannya yang terluka. Setiap hari serigala tersebut membawa membawa makanan untuk Fubuki dan lalu duduk memperhatikan Fubuki. Saat Fubuki merasa sudah sembuh, dia teringat akan dendamnya. Fubuki mengambil pedang dan berdiri dihadapan serigala itu. Tiba-tiba serigala itu melompat kearah Fubuki, melewati dirinya, melesat menuju mulut gua dan menerkam anjing liar yang mengntai disitu. Fubuki heran, mengapa serigala tersebut menyelamatkan dirinya padahal dia tahu Fubuki ingin membunuhnya. Akibat pergumulan itu, sang serigala terluka. Fubuki segera merobek kaijin bajunya untuk membebat luka kaki serigala itu. Gadis ini jadi ragu, apakah serigala ini yang membunuh ayahnya, atau gerombolan anjing liar.
Hari demi hari berlalu, Fubuki tampak berbahagia dengan serigala yang diberi nama Inuki itu. Fubuki berharap semoga bukan Inuki yang membunuh ayahnya, karena ia ingin hidup berbahagia dengan Inuki. Saat mereka sedang bedua, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan dan Inuki pun jatuh tak bergerak. Darah membasahi sekelilingnya. Ternyata tembakan itu berasal dari ibu Fubuki yang tidak rela pembunuh suaminya hidup dengan Fubuki.
Fubuki berteriak memanggil Inuki, sedang sang ibu terdiam memandang salju turun. “Shirahime sedang menangis”.


  • CHAPTER THREE: KOORI NO HANA

Sepasang kekasih bediri di dekat danau, saat itu salju turun. Pria yang hendak pergi tersebut bertanya pada Kaya, sang gadis tentang kerelaannya untuk menunggu sampai dia kembali lagi. Pria itu berjanji akan kembali, karena ia tidak akan membiarkan Kaya hidup sendirian...
Kaya bercerita, bahwa salju yang turun itu adalah tangisan dewi salju, Shirahime. Danau itu pun merupakan tempat Shirahime ‘menyucikan’ dirinya. Kaya bersupah, bagaikan danau yang membeku walau di musim semi, dia akan menunggu sang kekasih selamanya. Layaknya yang dilakukan seorang istri dalam dongeng yang selalu setia menunggu suaminya. Saat meninggal, badan sang istri berubah menjadi bunga. Kaya ingin seperti wanita itu, supaya selalu bisa menunggu sang kekasih sampai kapanpun. “Kumohon, kembalilah dengan selamat bagaimanapun caranya. Aku menunggumu di sini selamanya...”, kata Kaya sambil menangis.
Cerita berlanjut 30 tahun kemudian. Pria itu pun kembali, tampak dirinya semakin tua dan berjenggot. Dia ragu, apakah Kaya masih menunggu dirinya, karena terlalu lama berpisah. Pria ini teringat cerita Kaya engenai Shirahime saat melihat salju turun. Dia pun tiba di danau dimana 30 tahun lalu mereka berpisah. Danau itu tidak tampak berubah, masih sama seperti dulu. Pria itu mencari Kaya, tapi tidak tampak dimanapun juga. Dia pasrah jika ternyata Kaya sudah menikah dengan orang lain, karena amatlah berat penantian selama 30 tahun.
Pria itu mendekati danau, lalu dilihatnya sebuah pemandangan yang amat mengejutkan. Di bawah permukaan danau yang membeku, tampak sosok wanita berbaring dengan mata tertutup, berambut hitam panjang dan mengenakan kimono. “Kaya!” teriak pria itu. Air mata mengalir di pipinya. Teringat kembali olehnya saat berpisah 30 tahun lalu. Terngiang kembali kata-kata terakhir Kaya, “Walau aku sudah meninggal, semoga tubuhku menjadi bunga. Supaya aku selalu bisa menuggumu...”.


  • CHAPTER FOUR: HYOKU NO TORI

Seorang prajurit berjalan di tengah salju. Dia tersesat, kehilangan arah jalur yang seharusnya ditempuh. Dia tidak bertemu siapapun di sekitar situ. Saat itu langit gelap, salju sedang turun. Dia mendengar bunyi sesuatu, yang ternyata berasal dari sepasang bangau di pohon di dekat situ. Melihat pasangan bangau itu, pikirannya melayang ke masa lalu. Dia teringat akan kekasihnya yang bernama Yukino. Gadis itu menangisi keharusan kekasihnya pergi berperang. Pria tersebut memberikan alasan, jika dia bisa kembali dengan selamat, maka dia akan melamar Yukino kepada ayahnya.
Didorong rasa iri, maka pria itu memanah salah satu bangau tersebut. Karena melindungi bangau betina, sang bangau jantan itu mati terkena panah. Prajurit itu meninggalkan pasangan bangau tersebut. Tanpa sepengetahuannya, banagu betina tersebut terbang membawa kepala bangau jantan tersebut terbang bersamanya.
Waktu masih berlalu, prajurit itu masih terjebak dalam salju tanpa menemukan jalan untuk ke desa terdekat. Kekuatan badannya makin melemah. Tiba-tiba dia menemukan panahnya, dan juga badan bangau yang dipanahnya, tanpa kepala. Dia berpikir apakah kepala bangau itu telah dimakan anjing liar.
Pria itu lalu terjatuh setelah pingsan. Diantara ambang kesadarannya, dia teringat akan cerita Yukino mengenai Shirahime, bahwa salju adalah air mata Shirahime. Lalu dia melihat seorang wanita berkimono putih. Wanita itu memandangnya dengan pandangan sedih, di matanya tampak duka yang tak terucapkan. Prajurit itu menduga, jangan-jangan wanita itu adalah dewi kwmatian. Wanita itu menunjuk ke suatu arah. Pria itu mengikuti arah jari banita itu, saat dia enoleh kembali, wanita itu telah menghilang. Pria itu lalu mengumpulankembali semangatnya yang sempat menghilang, dia bertekad tidak akan mati untuk bertemu kembali dengan Yukino.
Prajurit itu berjalan mengikuti arah yang di tunjuk wanita itu selama 2 hari 2 malam tanpa kenal menyerah. Saat membakar api unggun, dia menemukan mayat bangau betina yang dulu pasangannya telah ia bunuh. Dia terkejut menemukan kepala bangau jantan yang dulu dia bunuh di balik sayap bangau betina itu.
Akhirnya, dia menemukan sebuah desa sesuai dengan petunjuk wanita itu. Dia pn menyadari, bahwa wanita itu adalah bangau betina yang pasangannya telah ia bunuh. Dia membawa mayat bangau betina itu menuju ke desa sambil menangis, “kamu telah menolongku, padahal akulah yang telah membunuh suamimu...”.


  • CHAPTER FIVE: SHUU

Pengembara dan wanita itu berdiri di pinggir jurang, di bawah sinar bulan. Pria itu menatap langit bersalju, sedang wanita berkimono itu menatap si pria. Sang pria masih berbicara tentag Shirahime, “Saat Shirahime menagis, maka akan terjadi hal yang menyedihkan. Sebaiknya kamu pulang saja sekarang”. Wanita itu menawab dengan paras muka dingin, “Salju itu bukan air ata Shirahime”. Pria itu terkejut mendengar kata-kata sang wanita. Dia makin kaget saat melihat segerombolan serigala melayang, dan wanita itu menaiki salah satunya. “Salju itu bukan air mataku. Melainkan tangisan kesedihan anak manusia”. Sang pengembara hanya bisa mengucap: “Shirahime...” sambil menyaksikan wanita itu pergi bersama serigala-serigala tersebut.